Cerpen~ Itu Kamu!!
“ha...ha...ha... kau ini memang bisa saja ya...” gelak tawa para
remaja laki-laki yang asik ngerumpi.
“Tapi
ngomong-ngomong, Yana itu suka sama siapa ya?” bisik Ray.
“Oh
iya juga, Yana suka sama siapa Tan? Kan dia teman mu sejak SMP!!” tanya Gani
pada Fatan. Fatan hanya menjawab dengan
mengangkat pundaknya, tapi ia segera berdiri dari kursinya dan memberi
isyarat tangan pada teman-temannya seakan mengucapkan ‘tunggu disini, aku akan kesana’. Fatan berjalan kearah seorang
perempuan yang sedang fokus membaca buku biologi.
“Yana!!”
teriak Fatan, tapi Yana hanya mengangkat kepalanya sejenak untuk melihat wajah
Fatan dan kembali lagi pada bukunya.
“Yan,
kamu suka sama siapa sih??” tanya Fatan penasaran.
“Untuk
apa kamu tanya itu? Itu pertanyaan yang tidak penting” sahut Yana tanpa melihat
wajah Fatan.
“Gak
papa sih..... atau jangan-jangan kamu gak pernah suka sama seseorang ya??” tanya Fatan dengan suara
yang dibuat takut.
“Kamu
kira aku tidak normal?!!” jawab Yana dengan datar.
“Lalu
kamu suka sama siapa??” tanya Fatan penuh harap.
“Itu
privasi!” Cetus Yana.
“Ayolah
beri tau... yang lain kan sudah memberitau suka pada siapa....” ucap Fatan
sedikit memohon.
“Kalian
semua itu tidak tau apa yang namanya
privasi! Lagian kamu ngapain maksa!” Yana sedikit meinggikan suaranya.
“Apa
sih kok sampai marah, aku kan hanya ingin tau... siapa sih Yan yang kamu
suka??” ucap Fatan yang sedikit kesal tapi tak menyerah untuk bertanya.
“Bagaimana
kalau aku bilang itu kamu!?” cetus Yana santai yang sedari tadi menjawab semua
pertanyaan Fatan tanpa melihat ke wajahnya. Fatan terdiam, dia merasa tonggak
yang ada di hatinya ditendang kuat-kuat oleh Yana. Teman-teman Fatan yang lain
sedari tari menguping ikut terkejut. Suasana senyap hinggap sementara waktu hingga Fatan
berbicara pada Yana, “Aku keluar dulu ya...”
Fatan
pergi keluar kelas dengan wajah yang masih terkejut, teman-temannya mengikuti
Fatan dari belakang.
“Apakah itu benar??” tanya Ray memecah kesunyian.
Yana mendesah, berdiri dari kursinya dan
menghampiri Fatan dan teman-temannya yang ada di luar kelas. “Itu tidak benar,
aku hanya memberitahu kalian bahwa privasi itu tidak bisa dipaksakan.” Ucapnya
santai dan berjalan kembali menuju kursinya. Yana menarik nafas pelan, tapi
hati Yana bergumam ‘sebenarnya..... itu kamu!!’
Komentar
Posting Komentar