Cerita Pendek~~Arti Kehadiranmu



Aku terus berlari terengah-engah, akhirnya aku sampai juga di halte bus. Aku duduk di bangku panjang dan melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tanganku yang ternyata menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Oh, semoga saja aku tak terlambat.
            Aku menyandarkan punggungku, kuhela nafas dan mencoba untuk menenangkan pikiranku. Langit nampak cukup gelap, mungkin pagi ini akan turun hujan. Walau begitu, jalanan tetap padat oleh kendaraan yang lalu-lalang. Aku bosan, di sebelahku orang-orang sibuk dengan gadget masing-masing, dan aku sedang malas untuk menyentuh telepon pintarku. Ku coba obrak-abrik isi tasku, mungkin saja aku menemukan sesuatu yang menghilangkan kebosananku menunggu bus yang mungkin akan lama.
            Aku menemukannya, sebuah pulpen hitam dan buku teka-teki silang. Dua barang itu membawaku pada kenangan, tepatnya sekitar dua tahun yang lalu. Di saat aku tak mudah percaya akan orang lain yang datang begitu saja, lebih-lebih memercayai perihal cinta. Namun kejadian itu seakan mematahkan anggapanku.  Pulpen yang sederhana bahkan mungkin biasa saja, namun berbeda, serta buku teka-teki silang dengan cover unik, yakni gambar hujan yang dibawahnya ada berbagai wadah untuk menampung seperti ember, gelas, galon dan lainnya. Padahal biasanya cover buku TTS yakni artis-artis atau model-model Asia.
Dua barang itu kudapatkan saat dua tahun lalu, aku naik pesawat karena suatu kejadian yang memaksaku. Tapi mungkin, alasan itulah yang malah menuntunku untuk bertemu dengannya.
            “Permisi, bangku saya di situ.” Terdengar suara agak berat menyadarkanku dari ketegangan.
            Aku mendongak melihat wajahnya, “Maaf, bisakah saya tetap di sini dan anda duduk di bangku saya?” Ucapku dengan suara yang serak.
            “Ya, tentu saja.” Jawabnya lantas duduk di sebelahku atau lebih tepatnya di samping jendela.
            “Anda takut naik pesawat?” Tanyanya padaku. Aku mengangguk kaku.
            “Hmm.. begini, apakah anda suka teka-teki?” Aku menoleh ke arahnya dan mengerutkan dahi. Apa maksudnya bertanya tentang hal semacam itu saat aku sedang takut seperti ini? Dan kenapa ia berlagak akrab seakan kami sudah saling mengenal.
            “Jawab saya dengan cepat ya! Apa warna dominan gigi?” Tanyanya tanpa persetujuan dariku untuk mengikuti permainan teka-tekinya.
            Aku semakin bingung dengan yang ia lakukan, namun aku menjawabnya. “Putih.”
            “Jawab dengan lebih cepat! Apa warna dominan kertas?” Tanyanya lagi, nada suaranya lebih bersemangat.
            Kini aku menjawab dengan cepat. “Putih.”
            “Tissu warnanya apa?”
            “Putih.”
            “Sapi minumnya?”
            “Susu.”
            Lantas ia berhenti bertanya dan malah tertawa, aku bingung dengan apa yang terjadi.
            “Sejak kapan sapi minum susu?” Tanyanya. Aku berpikir sejenak. Ya ampun, sapi kan minum air. Aku kini malah tertawa juga, lebih tepatnya menertawakan diriku sendiri.
            Tiba-tiba suara speaker terdengar pertanda persiapan pesawat lepas landas. Aku kembali teringat bahwa aku berada di dalam pesawat.
            Aku meniliti wajah laki-laki yang duduk di sebelahku itu. “Anda, membantu saya supaya tidak takut, kan?” Tanyaku padanya.
            Ia mengangkat bahu, “Tidak juga, saya hanya membantu mengalihkan pikiran anda supaya tak terfokus pada rasa takut. Untuk menghilangkannya, itu dari diri anda sendiri.”
            Aku terdiam, merasa kagum pada laki-laki ini.
            “Sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Sensasinya akan terasa berbeda. Mungkin lebih baik kita melewatinya dengan melanjutkan bermain teka-teki.” Ujarnya. Aku mengganggukkan kepala.
            Banyak hal yang kami bicarakan, dari bermain teka-teki, membicarakan hobi atau yang lainnya. Hingga rasa takutku rasanya sudah ia hapuskan, walau memang masih ada rasa tegang saat pesawat lepas landas atau mendarat.
“Oh ya, saya Zelin. Siapa nama anda?” Tanyaku dan mengulurkan tangan ketika kami turun dari pesawat bersama.
            Ia menyatukan dua telapak tangan dan meletakkannya di depan dada. “Hilman.” Aku menarik uluran tanganku kembali.  Aku jadi malu sendiri, seharusnya aku tahu diri dengan kerudung yang aku kenakan.
Ia benar-benar istimewa, laki-laki yang berbeda. Aku masih belum pernah mengerti arti cinta, tapi bersama dengannya terasa begitu nyaman. Dia membuatku belajar untuk lebih terbuka dan memercayai orang lain. Rasanya dia adalah cinta yang tak pernah kuduga.
 “Apakah mungkin kita bisa kembali ke Bandung dengan pesawat bersama?” Tanyanya padaku.
“Maaf, sepertinya tidak. Aku akan kembali ke Bandung bersama keluargaku dengan kendaraan darat,” jawabku.
Ia menganggukkan kepalanya.
“Sepertinya itu keluargaku. Kita sepertinya berpisah di sini. Terima kasih untuk segalanya.” Ujarku dan meninggalkannya.
“Tunggu!” Suaranya menghentikan langkahku.  Aku membalikkan badan.
“Ini, untukmu. Maaf hanya bisa memberikan ini. Hanya sekadar tanda pertemanan.” Ujarnya sambil memberikan sebuah pulpen dan buku TTS untukku.
“Terima kasih. Semoga kita bertemu lagi suatu hari nanti. Assalamu’alaikum.”
            “Wa’alaikum salam.”
            Tas....ts....tas.......tasstststs....
            Suara tetesan hujan yang beradu dengan atap halte menyadarkanku. Tunggu, hujan? Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku, ternyata aku melamun cukup lama.
Dari kejauhan, nampak seorang laki-laki yang menerjang hujan. Sepertinya ia menuju ke halte ini. Ia pun tiba dengan pakaian yang setengah basah.
            Setelah beberapa saat aku memerhatikannya, aku baru sadar. Itu Hilman! Aku segera bangun dari bangku dan berdiri di hadapannya. “Hilman!?” Aku melambaikan tanganku yang memegang pulpen.
            Ia yang mulanya sibuk sendiri mengibaskan rambutnya yang setengah basah, segera menghentikan kegiatannya, dan melihat ke arahku. Ia mengerutkan dahinya. Lalu ia melihat ke arah pulpen dan buku TTS yang kupegang dan membulatkan matanya. “Zelin?”
            Aku mengganggukkan kepalaku mantap dan tersenyum lebar. “Alhamdulillah, akhirnya kita bertemu lagi setelah waktu yang cukup lama.” Ujarku begitu bahagia. Namun, tak ada senyum di wajah Hilman. Hanya wajah datar dan sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya.
            “Maaf sebelumnya, tapi sebenarnya saya bukan Hilman. Saya Salman, saudara kembarnya.” Ujar laki-laki itu dengan nada ragu.
            “Oh, saudara kembar rupanya. Maaf ya, wajah kalian mirip sekali. Tapi bagaimana anda tahu nama saya? Jikalau boleh tahu, Hilman sekarang ada di mana? Apa kalian tinggal bersama?” Tanyaku seakan kami sudah lama kenal, aku sudah terlanjur bahagia. Rasanya aku ingin segera kembali mengobrol dengan Hilman, bodohnya aku dulu tidak meminta nomor teleponnya.
            Ia menggelengkan kepalanya dan menarik nafas dengan berat. “Hilman menceritakan tentangmu, dan buku TTS itu buatannya sendiri dan hanya ada satu, ya yang Anda pegang sekarang. Tentang Hilman,” dia diam seakan memberi jeda dan berat untuk melanjutkan kalimatnya.
            “Hilman meninggal  empat bulan yang lalu.”
            Seketika tubuhku rasanya lemas. Rasanya nafasku jadi sesak, hanya deru hujan deras yang terdengar di telingaku kini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN HASIL PAMERAN

Saat Ini

Lose