Kenangan Bersama Hujan
Hari ini jam
terakhir kosong, tidak ada guru di kelas itu. Kelas cukup ramai, ada yang
bergosip, bergurau, bahkan ada yang lari-larian. Lisa memandang ke arah jendela
dengan lekat, ia menatap langit berselimut awan gelap yang tebal. Akhirnya,
awan gelap itu menumpahkan bebannya. Hujan turun cukup deras. Ribuan tetes air
berlomba-lomba mencapai permukaan bumi.
“Aldo, hujan!” seru Lisa pada
seseorang yang duduk di depannya.
Orang tersebut bangun dari posisi
awal ia menempelkan kepalanya ke meja, menjadi posisi tegak, ia menoleh dengan
malas, “Apaan sih, Sa! Aku sedang badmood
sekarang. Jangan ingatkan aku pada hujan! Terlalu banyak kenangan menyakitkan. Lagian
aku sudah move on.”
“Aiih, aku kan cuma bilang kalau
hujan. Kenapa kamu jadi sewot?” ujar Lisa kesal. Hening sejenak. “Lagian aku
gak sepenuhnya percaya kalau kamu sudah move
on, aku merasa masih ada bagian hatimu yang tertinggal bersama hujan.” Lisa
masih tak memalingkan pandangannya dari arah jendela.
“Sotoy! Belum juga jadi psikolog.”
Ujar Aldo sambil menguap lebar, lalu ia menempelkan pipinya ke meja dan mencoba
untuk terlelap. Lisa mendengus kesal, ia masih terus menatap hujan.
Bel pulang berbunyi. Kelas langsung
riuh senang dan mulai berhamburan keluar kelas untuk pulang. Sementara hujan
masih turun. “Bagaimana aku pulang? Aku
bahkan lupa bawa jas hujan. Tak mungkin aku mandi hujan, hari ini hari rabu,
seragam ini masih dipakai besok.” Risau Lisa dalam hati.
“Do, bangun! Kamu gak mau pulang?”
Lisa membangunkan Aldo dari tidurnya.
“Hah? Aku masih ada ekskul
fotografi!” ujar Aldo yang terkejut karena dibangunkan.
“Ya sudah, aku duluan.” Ucap Lisa.
Aldo berkemas dan berjalan dengan
kondisi setengah sadar menuju ruangan yang biasa digunakan untuk ekskul
fotografi.
“Untuk
hari ini, kalian ditugaskan memotret objek dengan tema hujan, selagi hujan
masih tak berhenti.” Ujar seorang kakak kelas yang memang menjadi pembina
ekskul fotografi.
Aldo melangkah melewati koridor,
hendak mencari objek yang menarik. Namun ia melihat ke arah mading sekolah
sejenak. “Aku masih belum pernah membaca
hasil karya Lisa.” Gumamnya dalam hati sambil mengulas senyum simpul
diwajahnya. Ia mencari karya Lisa, dan ia mulai membacanya.
Aldo terpekur
ditempatnya berdiri. Perasaan aneh menyelubung ke relung hatinya. Puisi itu,
terasa seperti dirinya? Otaknya terus berusaha untuk berpikir, tentang
kepingan-kepingan yang tak jelas posisinya. Teringat segala kenangannya. Bukan
kenangan tentang seseorang yang pernah singgah di hatinya, namun tentang
seseorang yang selalu berdiri membantunya untuk menegakkan tiang hatinya yang
terasa rapuh.
Lisa. Ya, tentu saja itu Lisa. Aldo
teringat ketika ia yang selalu menceritakan kisahnya, kisah tentang
kebahagiaannya, bagaimana dengan perasaannya, hingga tentang lukanya, pada Lisa.
Tapi apa? Aldo bahkan tak pernah mendengar kisah Lisa. Apa yang Lisa rasakan?
Lisa hanya menjadi pendengar yang
baik. Walau terkadang mengolok-ngolok saat Aldo terlalu lebay dengan
masalahnya. Namun hal itu membuat Aldo sadar dengan kesalahannya. Bagaimana
perasaan Lisa? Aldo bahkan tak pernah tau apakah ada masalah pada kehidupan
Lisa. Bagaimana kondisi perasaan Lisa? Apakah dia sedang menyukai seseorang? Aldo
tak pernah tau semua itu.
“Betapa
kejamnya aku”,
ujar Aldo dalam hatinya sambil memandangi puisi itu nanar.
Ia melangkah menyusuri lorong-lorong
sekolah dengan mata yang menatap sekeliling. Ia mencari Lisa. Suasana sudah
sangat sepi, sudah banyak yang pulang karena kebanyakan membawa kendaraan
pribadi atau antar-jemput.
Akhirnya, Aldo menemukannya. Lisa
berdiri di depan sekolah yang bersebelahan dengan tempat parkir, ia menatap
hujan dan merentangkan tangan kanannya ke depan, menampung tetesan hujan yang
jatuh dengan telapak tangannya. Aldo menghentikan langkahnya dan berjongkok, ia
memotret Lisa dari jauh.
“Hujan, salahkah aku menyimpan rasa
ini padanya? Rasa yang lebih dari sekedar teman. Aku tak mengerti bagaimana
semua bermula.” Lisa terdiam sejenak, namun Aldo tentu saja terkejut
mendengarnya. Rasa bersalah seketika menyergapnya, pasti Lisa sering menahan perih
karena semua ceritanya.
“Hujan,
kutitipkan saja rasa ini padamu. Bawalah ia jatuh menuju permukaan dan terurai.
Rasa perih yang berselimut dingin ini, kuharap segera berakhir.” Lisa
menghembuskan nafasnya, kini ia mulai memeluk diri mencoba menghangatkan diri.
Aldo
perlahan melangkah ke arah Lisa dan berdiri di sebelahnya. “Maafkan aku Lisa.”
Ucap Aldo nyaris tak terdengar.
Lisa
terperanjat melihat Aldo berada di sampingnya, ia jadi bertingkah aneh dan
berjalan mundur menghindari Aldo. Kini Lisa hanya bisa diam dan menundukkan
kepalanya, ia tertangkap basah perihal perasaannya oleh Aldo.
“Semua
ini salahku, tak pernah mendengar kisahmu. Hujan ini, menjadi kenangan yang
jauh lebih menyakitkan untukmu karena semua kisahku. Maafkan aku yang memang
tak penah mengerti.” Ujar Aldo sedikit mengeraskan suaranya karena harus beradu
dengan deru hujan.
Kini
hanya suara deru hujan dan sesekali kendaran melintas di hadapan mereka.
“Tidak, Do. Hujan ini tidak menjadi kenangan yang menyakitkan. Karena saat
hujan, kamu datang padaku, dan kamu percaya padaku dengan memeberikan kisahmu.
Terimakasih.” Akhirnya Lisa bisa mengutarakan semuanya.
Suasana
kembali hening, hujan kini mulai reda. “Tolong, anggap saja ini tak pernah
terjadi, bersikaplah sebagaimana kamu bersikap biasanya padaku. Aku pulung
dulu.” Ujar Lisa mengakhiri percakapan itu. Ia berjalan menerobos hujan rintik,
menaiki sepedanya dan mulai mengayuhnya.
Aldo
hanya diam, menatap Lisa yang pergi bersamaan dengan redanya hujan.
***

Komentar
Posting Komentar