Cerpen~
Ku Tak Mau Sepi
Pagi
yang cerah menyambutku hari ini, dengan perasaan senang dan semangat tentunya.
“Ayo Ra! Makan!” teriak Mama dari
ruang makan.
“Iya Ma.” jawabku. Sembari bernyanyi
aku menuruni tangga, menyentuh piano yang berada di samping tangga dan bertemu
dengan Ayah yang baru keluar dari kamarnya.
“Selamat pagi Ayah!” sapaku dengan
senyuman. Ya, inilah yang selalu terjadi pada hari-hariku. Sapaan pagi kepada
semua orang rumah, ditambah dengan senyuman, pada Ayah, Mama, Dedek Arfa, Bi Ipah,
hingga Mang Damar yang biasa mengantarku pergi ke sekolah.
“Makan pelan-pelan sayang.” ujar
Mama sambil mengelus kepalaku, aku hanya tersenyum. Padahal jam masih
menunjukkan angka 6, tapi aku keburu untuk pergi ke sekolah ingin bermain piano
di sana. Memang sih, di rumah juga ada piano tapi aku lebih suka bermain piano
di sekolah karena di sana lebih sepi. Percaya atau tidak, aku suka dengan
suasana sepi, hanya ada aku dan piano, berdua, membuatku lebih mendalami
maknanya.
Seperti biasa aku diantar Mang Damar
ke sekolah, setelah turun dari mobil aku berlari menuju ruang musik, dan di
sinilah aku, di ruang musik yang ada di sekolah, duduk di depan piano dan
memainkan kiss the rain.
“Clara!” jerit seseorang sambil
menepuk pundakku dari belakang, tentu saja aku terkejut.
“Iihh.. Tasya, aku kaget tau!”
gerutuku kesal.
“Emang tujuannya gitu kok.” ujarnya
tanpa merasa bersalah dan tertawa, aku hanya memanyunkan bibirku kesal. “Gak
bosen apa main piano mulu?” tanyanya.
“Gak, karena piano adalah
sahabatku.” ucapku sok puitis.
“Oh, jadi aku gak dianggep nih?”
“Bukan gitu maksudku Sya, kamu itu
sahabatku juga.” ujarku mencoba menjelaskan.
“Iya deh iya. Hmm, mau ikut gak
nanti sore ke puncak?” tanyanya padaku.
“Puncak? Ngapain?”
“Refreshing, aku sekalian mau nyoba
kamera baru, mau gak?”
“Hmmm, mau. Tapi bareng siapa?”
“Ajak aja orang tuamu, kita sekalian
nginep aja di sana kan besok udah akhir pekan!” ujar Tasya dengan mata
berbinar. Aku mengganggukkan kepalaku mantap.
Sore menjelang, kami sudah dalam
perjalanan menuju puncak, namun tak sesuai harapan, ternyata di jalan hujan. Mama
asyik ngobrol dengan Tante Rika (Mamanya Tasya), Om Duta (Papanya Tasya) duduk
di depan sebelah sopir, sedangkan Ayah gak bisa ikut karena pekerjaannya, dan
Dedek Arfa gak ikut dan tinggal di rumah nenek.
Kulihat Tasya sibuk dengan smartphonenya. Aku melihat ke arah jendela mobil, hujan benar-benar
turun dengan deras. Saat kualihkan pandangan ke arah jalan di depan, tiba-tiba
ada truk yang menghadang jalan kami, aku berteriak sekencang-kencangnya. Mobil
ini langsung berbelok tajam dan menuju ke arah jurang, rasanya aku
berputar-putar di dalam mobil, dan kini tak hanya aku yang berteriak. Seketika
pandanganku menjadi gelap.
**
Mataku
mengerjap terbuka, aku melihat ke sekeliling dan semuanya nampak buram,
telingaku berdengung, aku mencoba menyentuh Mama yang ada di hadapanku dengan
tubuh yang benar-benar lemah. “Ma..” aku coba memanggil namun rasanya tak
mampu.
Bagaimana
ini? Apakah mereka semua akan baik-baik saja? Apakah hidupku akan berakhir
seperti ini? Apa yang harus kulakukan? Kelopak mataku tak mampu untuk membuka
dan perlahan tertutup.
**
Tak
tahu seberapa lama aku terlelap, kini aku dapat menggerakkan tubuhku dan
membuka kelopak mataku, namun semuanya gelap. Ada apa ini? Apakah sedang mati
lampu? Atau... aku buta?? Aku coba menyentuh tempatku tidur, ternyata ini
adalah kasurku, berarti aku di rumah. Bagaimana dengan keadaan Mama dan yang
lainnya?
Perlahan
aku turun dari kasur dan berjalan sambil merentangkan tangan ke depan
meraba-raba apapun yang ada, berkali-kali aku menabrak sesuatu. Aku memegang
pada pegangan yang ada di tangga, perlahan aku menurunkan kakiku, langkah demi
langkah menuruni anak tangga. Setelah sampai ke lantai dasar, tempat terdekat
adalah pianoku, aku mencoba duduk di sana. Kutekan tuts piano, namun tak menghasilkan bunyi apapun. Aku coba memainkan
Fur Elise, namun aku tak mendengar
apapun. Apakah aku juga tuli?
Sebenarnya
apa yang telah terjadi? Kini, hanya ada aku di sini yang bertemankan gelap dan
sepi. Aku memang menyukai sepi namun tak seperti ini. Bisakah aku melihat
setitik saja cahaya? Bisakah aku mendengar sedikit dentingan piano? Segalanya
seakan telah mati? Untuk apa aku masih bisa bernafas dan hidup di dunia ini?
Walaupun aku tak tahu apakah aku akan hidup dalam kebahagiaan di setelah
kematian.
Rasanya ada seseorang duduk di
sebelahku, ia mengelus kepalaku. Sentuhan ini, Mama! Aku langsung memeluknya
dengan sangat erat dan ia membalas pelukanku, aku merasakan tetesan air
mengalir di pipiku.
Perlahan ia melepas pelukan, ia
menarik tanganku lembut. Aku merasakan jarinya menyentuh lenganku. Garis yang
berkelok-kelok, huruf S? Mama mencoba berkomunikasi padaku!
S A Y A N G , ia menyentuh lenganku
dengan telapak tangannya, dan kembali menulis huruf, mungkin maksudnya jeda. K
A M U , H A R U S , K U A T.
Sayang
kamu harus kuat.
***

Komentar
Posting Komentar