Cerpen`

Agen Rahasia 
              
  “Binar, ambil baskom yang ada bawangnya di dapur, terus kupas semuanya ya! Ibu mau ke pasar,” perintah sang ibu kepada Binar yang sedang fokus menonton film di TV.
                “Iya, Bu.” Jadilah Binar sendiri di rumah. Ayahnya sedang pergi. Kakak dan adiknya bermain di rumah tetangga.
                Karena tontonan yang seru, Binar ingin mengupas bawang sambil menonton saja. Ia pergi ke dapur dan melihat betapa banyaknya bawang putih dan bawang merah dalam baskom yang berukuran cukup besar. Ia mengambil baskom kosong, pisau, dan juga kantong kresek untuk tempat sampahnya. Jadilah ia mengupas bawang di depan TV.
                Setelah seperempat baskom yang kosong terisi dengan bawang yang sudah terisi dengan bawang yang sudah dikupas, Binar merasa ingusnya mulai meler dan matanya pedih. Tak lama, sambil mengupas, akhirnya air matanya mengalir. Padahal film yang ditontonnya adalah film action.
                Tak kuat menahan perih, ia mencari cara supaya ia tak merasa perih saat mengupas bawah. Memakai kacamata hitam. Ia mencari kacamata hitam milik ibunya di kamar. Akhirnya ketemu. Jadilah ia menonton TV+ngupas bawang dengan menggunakan kacamata hitam.
                Tapi, usahanya ternyata belum berhasil. Entah mengapa matanya masih terasa agak perih dan ingusnya berusaha untuk turun. Ia ingat sesuatu. Ia pernah membaca bahwa penyebab mata perih saat mengupas bawang karena aroma dari bawang itu sendiri. Tak tahu juga itu benar atau tidak.
                Jadi, ia mengambil masker dan menggunakannya. Lengkap sudah, menonton TV+ngupas bawang dan memakai kacamata hitam+masker.
                Tak lama ada salam dari pintu depan. Binar menjawab salam itu. Rupanya ayah, ibu, kakak dan adiknya sudah pulang bersama-sama. Saat mereka semua sudah sampai di ruang tengah, mereka memekik kaget. “Astagfirullah!” “Ya, Allah!” “Bah!” “Ha??”
                Binar hanya menoleh ke arah keluarganya yang berdiri berjejeran dengan wajah terkejut.
                “Kamu ngapain? Ya ampun....” ujar sang ayah.
                Sedangkan kakak dan adiknya seketika meledakkan tawa. “Kamu kayak orang agen rahasia!”
                Binar hanya melongo. “Mata pedih.” Ucapnya lalu membuka masker dan kacamata hitam yang awalnya melekat di wajahnya. Tenyata mata Binar agak bengkak menandakan ia habis menangis. Suasana rumah jadi ramai karena tertawa melihat Binar seperti itu.

Sebenarnya sih, mungkin sudah banyak orang yang mengalami hal ini kan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN HASIL PAMERAN

Saat Ini

Lose