Kisahku Perihal Uang

‘Uang bukanlah segalanya, namun segalanya butuh uang’
          Mungkin kita pernah mendengar sederet kata itu, atau bahkan sering mendengarnya. Ada pula istilah ‘Time is money’ yang artinya waktu adalah uang. Dua kalimat tersebut seakan menyatakan bahwa uang adalah sesuatu yang sangat penting atau bahkan berharga, dan banyak orang yang mengakui hal tersebut. Buktinya dengan semakin banyaknya orang yang berlomba-lomba bahkan tergila-gila untuk mencari uang, hingga mereka tak jarang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya misalnya saja seperti mencuri, merampok, korupsi dan yang lainnya. Dan pada intinya kejahatan itu sama, yakni mengambil hak yang bukan miliknya.
          Uang itu sendiri, menurut KBBI adalah alat tukar atau standar pengukur nilai (kesatuan hitungan) yang sah, dikeluarkan oleh pemerintah suatu negara berupa kertas, emas, perak, atau logam lain yang dicetak dengan bentuk dan gambar tertentu.
          Uang menyihir mata manusia menjadi lupa dengan hal-hal yang mestinya mereka lalukan, membuat mereka lupa dengan kewajiban. Karena banyak orang yang berpendapat, dengan adanya uang hidup akan tenang, bisa membeli apapun yang diinginkan. Padahal itu salah, masih banyak hal yang tak bisa dibeli oleh uang, contohnya perasaan.
          Walaupun orang tersebut memiliki banyak uang, dan tiba-tiba orang yang disukainya jadi mau dekat dengannya, mungkin secara kasat mata bahwa uang juga bisa membeli orang-orang yang diinginkan. Namun, apa yang di dalam hati orang yang dibeli tersebut? Apa yang mereka pikirkan? Bagaimana perasaan mereka? Bisa jadi mereka menyimpan dendam, dan berencana untuk memberontak.
          Ya, itulah uang. Hanya sesuatu yang semu, yang membuat manusia memiliki topeng-topeng. Aku pun tak pernah setuju dengan dua kalimat diawal. Aku tak menganggap uang seberharga itu. Mungkin memang saat  kecil aku menyukai uang karena dengan memiliki uang aku bisa membeli jajan. Pemikiran yang sama dengan banyak orang.
          Saat SD aku beberapa kali menjadi bendahara kelas, jadi aku bertanggung jawab menjaga dan mengatur keuangan kelas. Saat aku kelas 4 SD, uang kas kelasku hilang. Aku menangis saat itu, namun aku sadar yang aku tangisi bukan uang. Namun tanggung jawab yang kupikul, karena uang itu adalah milik anak-anak kelas. Aku dan ketua kelasku saat itu mencari keliling sekolah, khawati aku menjatuhkannya di sekitar sekolah, namun nihil. Guruku menyuruhku untuk mencari dulu di rumah. Saat pulang aku mencari ke jalan-jalan yang aku lewati, nihil. Di rumah, aku mencari kemana-mana, tetap nihil. Hingga saat aku hendak mengambil baju, kotak tempat aku menyimpan uang kas tergeletak di atas lipatan-lipatan bajuku. Aku tak tahu bagaimana kotak itu di sana, padahal sebelumnya aku sudah mengecek ke lemari pakaian itu. Kupikir mungkin orang tuaku yang  menemukannya, tapi mereka menyangkalnya. Aku tak tahu bagaimana jelasnya uang itu bisa kembali, yang jelas akhirnya aku bisa memegang tanggung jawabku kembali.
          Aku masih tetap tak mengganggap uang itu sangat berharga, karena menurutku yang berharga itu seperti cinta, kasih sayang, ketaatan, kepedulian dan semacamnya. Namun sebuah kejadian menyadarkanku untuk tidak meremehkan uang.
          Aku ditagih bendahara kelas untuk membayar uang buku yang belum lunas, masalahnya aku selalu membayar sesuatu saat diawal waktu. Namun dicatatannya aku tidak membayar, aku khawatir dia yang tak mencatat saat aku membayarnya, karena terlebih lagi dia juga mengurus uang dari berbagai hal.
          Seketika terasa berat dalam hati. Jika uang itu tak berharga, seharusnya aku dengan mudah membayarnya walaupun aku sudah pernah membayar. Tapi apa, hatiku merasakan kesal. Itu karena, uang juga cukup berharga. Dan hatiku bersikeras untuk membayarnya. Karena aku tak punya bukti yang jelas bahwa aku pernah membayar sebelumnya, hanya ingatan yang remang-remang. Aku takut, ternyata malah aku memang belum membayar buku itu. Aku malah menjadi orang yang dzalim nanti. Aku sangat berat hati harus meminta uang kepada orang tuaku. Namun untung saja, aku sedang memiliki uang dari sebuah lomba.
          Ya, dari peristiwa itu aku belajar. Uang itupun harus ditempatkan dengan baik, dipergunakan dengan baik. Terlebih lagi, saat ini aku masih belum bisa menghasilkan uang. Islam pun mengajarkan tentang pencatatan, terlebih lagi perihal utang-piutang. Karena manusia tak lepas dari kesalahan dan kealpaan. Aku belajar untuk lebih berhati-hati. Khawatir, gara-gara uang akan timbul masalah, akan timbul fitnah, atau hal lain yang tak diinginkan.
          Ini hanyalah sekadar kisahku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN HASIL PAMERAN

Saat Ini

Lose