Perang Penuh Kenangan


                Saat kecil aku sering bermain dengan sepupu-sepupuku, yakni Nia dan Afif. Karena setiap pulang sekolah aku selalu pulang ke rumah tanteku dulu, berdekatan dengan rumah Afif dan Nia. Jadi kami sering pulang bersama dan bermain bersama. Main masak-masak, dokter-dokteran, aku jadi guru dan sebagainya.
                Namun sejak Nia pindah rumah, aku jadi sulit untuk bermain bersamanya lagi. Diantara sepupu-sepupu yang ada di sekitarku, hanya akulah yang perempuan. Sepupu-sepupuku yang perempuan banyak yang lebih tua dariku atau mereka cukup jauh. Jadi aku selalu bermain dengan sepupu-sepupuku yang laki-laki yakni Afif, Rifqi, Aiman, ditambah Rio(adik ipar sepupuku yang sudah menikah).
                Jadi aku sering bermain dengan mereka. Sepulang sekolah kami sering bermain di rumah Rio, catur, karambol, petak umpet, atau menonton kartun seperti Tom&Jerry dan Spongebob. Atau kami juga sering bermain bola bersama di dekat rumah tanteku, yang seakan menjadi pos untuk berkumpul karena aku hampir setiap hari ke sana.
                Selain bermain bola, yang paling mengesankan saat kami perang bantal. Ya, di rumah tanteku ada sebuah kamar yang cukup luas dan kami sering berkumpul di sana menonton tv atau yang lainnya. Dan kami bermain perang bantal, sungguh perang yang sangat seru dan sengit. Kami tak lelah untuk terus melempar-lemparkan bantal ke sana ke mari dan berebut untuk mengambilnya. Hingga semua berakhir saat......... Tanteku datang untuk menyuruh kami makan siang. Ya, tentu saja kami kena semprot. Tapi, hanya senyuman-senyuman nakal yang terukir di wajah kami. Saat tante pergi, kami sempat melanjutkan sebentar perang bantalnya. Lalu segera untuk makan siang.
                Sangat sering hal-hal itu terulang, kadang kaki kami luka saat bermain bola. Kadang kami saling marah-marah karena main curang saat bermain petak umpet. Untungnya tak ada bantal yang sampai koyak atau keluar isi bantalnya walau kami sering bermain perang bantal.

                Wah, itu kenangan yang sangat hebat. Semua mulai berakhir saat kami mula menginjak usia remaja. Hanya sesekali saja kami bermain perang bantal. Hingga kesibukan di sekolah masing-masing membuat kami semakin jarang bertemu. Lagi pula, aku juga sudah harus tahu diri bahwa aku bukan anak kecil lagi. Aku juga tak bisa terus-terusan main bersama mereka kan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN HASIL PAMERAN

Saat Ini

Lose