Sekedar Kisah Kecil

(Tulislah sebuah peristiwa di masa lalu, yang menurutmu saat ini, peristiwa tersebut sangat memalukan atau mestinya tidak dilakukan)
Jujur saja, aku berpikir keras mencoba mengingat peristiwa memalukan apa yang sudah terjadi dalam kehidupanku. Akhirnya aku menemukannya.
            Hal itu terjadi saat aku masih kecil, masih duduk dibangku TK, lebih tepatnya masih nol kecil. Aku terpilih untuk berpartisipasi dalam drama yang akan dipersembahkan untuk perpisahan. Mungkin aku terpilih karena aku tak pemalu dan mudah bergaul dengan siapa saja.
            Dan drama itu berjudul Malin Kundang. Aku hanya ingat ada 4 orang pemain, yakni aku sebagai ibu Malin Kundang, Aldo sebagai Malin Kundang, Alfin dan Anang sebagai prajurit. Yang aku ingat demikian, gak tahu juga jika ada pemain lainnya. Aku ingat bahwa aku cukup sering tak ikut kelas karena berlatih bersama dengan Aldo dan kedua guruku.
            Sepertinya berbagai hal lucu terjadi saat kami latihan. Sayangnya aku tak ingat apa saja, yang aku ingat kami pernah tertawa terpingkal-pingkal dengan waktu yang cukup lama.
            Hingga hari perpisahan tiba. Aku di dan-dani layaknya emak-emak. Sedangkan mereka bertiga berpakaian biasa saja. Dan karena properti yang kurang, saat adegan aku menggendong Malin Kundang yang masih bayi. Aku malah menggendong boneka Dora. Ya, itu aneh.
            Drama kami berjalan sukses. Dan sejak saat itulah, hal memalukan terjadi padaku.
            Setiap aku bertemu dengan wali murid, pasti mereka menyapaku dengan sebutan IBU MALIN KUNDANG. Awalnya aku biasa saja, apalagi aku masih kecil saat itu. Tapi hal itu terus belanjut hingga aku SD. Guru-guru SD ku pun memanggilku Ibu Malin Kundang. Dan aku jadi mengerti rasa malu. Aku merasa cukup malu. Aku tak tahu Aldo SD dimana,dia jadi tak terkena imbasnya. Sampai sekarang aku tak tahu dia sekolah dimana. Alfin dan Anang masih satu sekolah denganku SD, SMP. Sedangkan SMA tinggal aku dan Anang yang satu sekolah, bahkan kami satu kelas dari SMP hingga SMA sekarang.
            Dan gara-gara dia, yang awalnya aku pikir saat lulus SD panggilan keramat itu sudah berakhir, ternyata masih berlanjut. Anang malah menceritakan ke teman-teman SMP tentang drama itu dan panggilan itu. Ya, teman-teman SMPku tertawa mendengar ceritanya. Sesekali mereka usil dengan memanggilku dengan panggilan Ibu Malin Kundang.Tapi itu tak berlangsung lama, dan segera berakhir. 
            Ku kira panggilan keramat itu sudah benar-benar berakhir. Hingga saat SMA, tepatnya saat pengambilan rapot oleh wali murid. Ayahnya Anang bertemu denganku. “Lah, ini yang ibunya Malin Kundang itu ya? Bareng lagi sama Anang kamu?” aku hanya mengangguk kaku.

            Dan Anang membahas tentang panggilan itu lagi pada teman-teman SMAku. Untungnya mereka tak terlalu merespon, hanya sekedar tertawa mendengar ceritanya. Dan sekarang sudah cukup langka ada yang mengungkit panggilan keramat itu. Ya, syukurlah. Tapi selain itu, sebenarnya keluargaku terkadang memanggilku Ibu Malin Kundang saat sedang ingin mengusiliku. Tapi aku biasa saja.


#7daysKF   #NulisRandom2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN HASIL PAMERAN

Saat Ini

Lose