Tak Selamanya Bersama
Kelas 1 SD bisa dikatakan masa transisi dari TK yang selalu
bermain menjadi belajar yang mulai serius, dan memakai seragam merah putih. Dan
kurasa kelasku, kelas 1C adalah kelas yang luar biasa. Aku menyukainya. Dari berbagai
macam karakter, kami bisa kompak. Kami selalu bermain bersama sampai
loncat-loncat di atas meja. Dan aku baru mengatahui beberapa tahun terakhir
ini, rupanya kelas 1C adalah kelas dengan kumpulan anak-anak usia yang paling
tua daripada kelas lainnya.
Pernah dulu,
kami menyiapkan kejutan untuk wali kelas kami. Aku tak ingat itu peringatan
apa, mungkin ulang tahun. Kami bekerja sama, aku membawa tempat untuk kado (dan
kuingat aku mengambil kardus tempat sarung), Aden membawa lilin kecil, dan yang
lainnya sumbangan untuk membeli isinya. Kuingat kami hanya memberi jajan dan
roti saat itu. Kelasku menjadi gelap, semua jendela dan pintu di tutup. Setelah
guru kami tiba, kami berteriak mengejutkannya. Benar-benar kenangan yang
istimewa.
Pernah pula,
sesuatu yang buruk terjadi. Padaku. Saat itu kami sedang bermain petak umpet. Aku
berlari mengikuti Fiqi dan Lilis untuk bersembunyi. Kami lewat koridor kelas 6
yang memang dekat dengan kelas kami. Namun tanpa disangka, dari arah yang tegak
lurus dengan aku berlari, ada seorang kakak kelas yang berlari kencang keluar
dari kelasnya. Kami bertabrakan. Aku terdorong ke tiang cukup keras, lebih
tepatnya kepalaku yang membentur tiang itu. Lalu aku sudah tak ingat. Aku ingat
saat aku duduk di kelas mendengar teman-temanku sedang mengaji. Lalu Umik ku
datang menjemputku. Ternyata aku gegar otak ringan. Aku tak terlalu ingat saat
itu, yang kuingat hanya tidur, nonton TV dan minum obat. Sepertinya aku tak
masuk sekolah 5 hari.
Saat pembagian
rapot, wali kelas kami mengadakan tukar kado. Kami disuruh membawa kado, lalu
nanti perorang akan mengambil secara sembarang. Konyolnya, aku menangis saat
itu. Karena, Zilda dan Urwa bekerja sama agar kado mereka saling tertukar, dan
aku saat itu merasa cemburu karena aku dekat dengan Zilda. Melihatku menangis,
Wali kelasku akhirnya menyuruhku segera mengambil kado walau keinginanku sudah
terlambat. Ternyata aku mendapat kado milik Afiyah. Kadoku didapat oleh Alfin,
padahal di dalamnya ada stip yang bertuliskan huruf Z.
Ada banyak
kenangan bersama teman-temanku. Jujur saja, sejak kecil aku berpikir aku akan
terus bersama dengan teman-temanku hingga nanti dewasa ataupun hingga maut memisahkan.
Ya, itulah yang kuharap. Namun, waktu terus berjalan dan akan selalu ada
perubahan. Begitu juga dengan teman. Teman lama akan pergi mengejar impian
masing-masing, dan aku akan menemui teman-teman yang baru. Bagaimana pun itu,
namun ku harap kenangan manis akan selalu melekat dalam memori kami semua.

Komentar
Posting Komentar