Sejak Kapan Aku Membaca?

Sejak kecil aku sudah diajari membaca, lebih tepatnya saat duduk dibangku TK yakni RA AL-MUNAWWARAH. Aku belajar huruf alfabet dan juga huruf hijaiyah. Mungkin tentu saja pada awalnya aku membaca dengan terbata-bata, tapi bukankah itu pencapaian yang baik bagi seorang anak?
            Aku bahkan sedikit lebih unggul dari beberapa temanku, aku sudah bisa menyelesaikan membaca Iqra’ saat masih TK nol kecil. (ngomong-ngomong kenapa sebutannya nol kecil – nol besar ya?). Dan aku mulai terus membaca, tak hanya Al-Qur’an namun juga buku-buku bacaan. Terlebih lagi karena gambar yang menarik. Bisa dikatakan, aku mau membaca karena gambar yang menarik. Maklumlah, namanya juga anak-anak kan?
Ngomong-ngomong soal gambar. Walaupun aku suka melihat gambar, sayangnya aku tak pandai menggambar. Namun, saat TK aku tetap PD sehingga terus menggambar. Tapi aku lebih suka mewarnai. Gambarku selalu lebih buruk dari teman-temanku yang perempuan. Kalau diantara anak laki-laki, gambarku lebih lumayanlah, walaupun ada beberapa anak laki-laki yang pandai menggambar sehingga gambarku jadi terlihat lebih buruk. Dan hal itu tetap berlangsung hingga kini. Ya, mau bagaimana lagi? Aku tak punya bakat menggambar.
            Kembali ke topik. Karena minatku dalam membaca buku cukup tinggi bagi kalangan anak-anak TK, aku dibelikan buku kisah 25 Nabi. Sayangnya, buku itu nyaris tulisan semua dan hanya ada beberapa gambar dan kurang menarik. Jadi, aku hanya membacanya setengah jalan. Aku lebih sering dibacakan oleh guruku atau Umi’ku.
            Saat kelas 2 SD, tepatnya di SDI AL-MUNAWWARAH, aku dibelikan buku kisah 25 Nabi lagi. Tapi yang ini lebih menarik karena ada banyak gambar dan berwarna-warni. Aku sangat menyukai buku itu. Walaupun buku itu cukup tebal, tapi aku dapat menghabisinya bahkan membaca ulang. Sejak itu minat membacaku bertambah.
            Aku pergi ke perpustakaan sekolah, mecari buku-buku berukuran besar dengan sampul yang menarik. Ada cukup banyak buku di sana. Aku lebih sering melihat gambarnya daripada membacanya, karena rata-rata bacaannya malah berbahasa inggris.
            Saat aku naik kelas 4 SD aku melihat dari kejauhan sampul buku yang menarik, aku mengambilnya. Ternyata itu majalah, majalah KINAN, majalah islam untuk anak. Aku membukanya, ada komik di dalamnya. Awalnya aku hanya membaca komik saja, namun di edisi-edisi berikutnya ada perkembangan. Sejak aku tahu ternyata ada kuis di majalah KINAN, aku mencoba ikut kuis itu dan mengirimkan jawaban via sms. Betapa senangnya saat di edisi selanjutnya ada namaku tercantum di dalam majalah. Aku jadi membaca seluruh isi majalah, hingga artikelnya yang memiliki sedikit gambar.
            Lalu perpustakaan sekolah mengadakan kuis, yakni berupa pertanyaan dan jawabannya ada di buku yang ada di perpus. Pertanyaannya yakni : Apa perbedaan katak dengan kodok? Bagaimana gunung bisa meletus? Jelaskan proses pembuatan lilin! Karena saat itu masih belum terlalu mengenal Google. Aku dan beberapa temanku yang tertarik segera mencari buku-buku di perpus. Aku ingat buku-buku itu karena aku pernah membukanya namun hanya melihat-lihat gambarnya. Alhamdulillah aku dan beberapa temanku memenangkannya dan mendapat hadiah. Aku mendapatkan kotak pensil. Yang aku ingat, ada Aden(temanku yang ikut juga) mendapatkan kaos kaki.
            Minat bacaku terus bertambah, saat aku jatuh cinta pada sebuah sampul novel dengan judul Lukisan Kenangan karya Pipiet Senja. Awalnya aku agak ragu membacanya karena gambarnya hanya sedikit dan ada sekitar seratus halaman, tapi aku memaksakan diri membacanya. Novel itu menceritakan rasa cinta seorang kakak terhadap adiknya yang kurang sempurna, namun adiknya memiliki bakat melukis. Untuk pertama kalinya aku menangis gara-gara membaca buku. Sejak saat itu, aku mencari novel-novel karangan Pipiet Senja, dan aku menyukainya.
            Di perpusku mengadakan lomba, yakni yang paling sering meminjam buku akan mendapat hadiah. Alhamdulillah aku berada di urutan ketiga. Aku mendapat hadiah sebuah novel! Dan yang membuatku semakin senang, ternyata novel itu karangan Pipiet Senja! Lebih tepatnya, itu Nomik(Novel-Komik), ada komik juga di dalamnya. Temanku Fatur, mendapat nomik kisah tentang Ibnu Jabir, seorang ilmuwan islam. Kami sempat saling meminjam buku.

            Minat membacaku bertambah lagi, saat teman-temanku memperkenalkan novel KKPK (novel anak terbitan DarMizan), ada beberapa gambar menarik untuk mengilustrasikan cerita. Tak beda jauh dengan novel karangan Pipiet Senja yang sudah kubaca. Aku mendapat pinjaman novel dari teman-temanku. Aku menyukainya. Ada juga, PBC untuk tingkatan remaja. Ada pula temanku yang memiliki komik, aku tanpa pikir panjang segera meminjamnya karena komik dominan dengan gambar.
            Aku lulus dari SD, dan merasa sangat berterima kasih atas perpustakaan sekolahku yang membuatku berkembang menjadi lebih baik, sayangnya aku jadi tak bisa mengikuti majalah KINAN lagi.
            Di SMP, tepatnya SMPN 1 Pamekasan, aku mencari novel sejenis PBC di perpustakaannya. Alhamdulillah ada beberapa buku di sana. Teman-teman baruku kadang memuji karena aku yang selalu membaca. “Kamu suka baca ya? Mbakku ada novel, mau tak pinjemin?” Renata menawariku novel. Tanpa segan-segan aku mengiyakan.
            Keesokannya ia membawa novel, judulnya Charmed Life(aku awalnya membacanya dengan ya... begitulah. Tak jadi dibahas). Sampulnya bagus! Tapi, saat aku membukanya... isinya tulisan semua, tanpa ada gambar sama sekali dan ada sekitar 200 halaman atau mungkin lebih. Aku tak yakin bisa membacanya. Tapi, terpakasa aku menerimanya karena merasa tak enak.
            Di perpustakaan sekolah ada banyak yang seperti itu, aku tak meminjamnya karena gak ada gambar sama sekali, hanya sampul saja. Tapi, aku mencoba membaca buku pinjaman dari Renata. Aku hanya membacanya 1 bab, setelah itu aku tak membacanya lagi hingga satu bulan berlalu. Aku merasa tak enak pada Renata jika harus mengembalikan bukunya tanpa aku baca dulu sampai selesai. Dengan sangat terpaksa aku membaca novel itu. Awalnya aku tak mengerti alur ceritanya, tapi tetap kulanjutkan membaca, hingga tak terasa sepertiga sudah kuhabiskan dan aku merasakan sensasi keseruan dalam novel itu. Kisahnya tentang sihir, seperti Harry Poter. Aku terus melanjutkannya hingga buku itu habis kubaca seluruh halamanya. Wah! Aku benar-benar merasa senang karena saat membacanya aku terus membayangkan apa saja yang terjadi.
            Sejak saat itulah aku berani mengambil buku tanpa ada gambar di perpustakaan. Ternyata aku memiliki teman yang memiliki hobi sama, namanya Durroh. Kami sering berbagi cerita, saling merekomendasikan novel yang sudah kami baca. Hingga aku juga membaca sebuah novel dengan judul ALCHEMIST , bukunya sangat tebal sekitar 500 lebih halamannya dan tanpa ada gambar. Tapi, aku menikmatinya.
            Minat membacaku semakin tinggi. Bahkan aku dan Durroh pergi berdua ke perpustakaan umum kota kami Pamekasan dengan berjalan kaki, dengan kira-kira jaraknya 1 km atau mungkin lebih. Meminjam berbagai buku cerita. Setiap minggu kami pergi ke sana.
            Ya, sejak saat itulah aku terus semakin suka membaca. Membeli novel atau kumcer(kumpulan cerpen) saat sempat dan juga sedang punya uang (tapi lebih sering dibelikan oleh orangtuaku). Tapi jika buku pelajaran, minat membacaku tidak tinggi atau mungkin bisa dibilang rendah. Baru 1 halaman kubuka buku pelajaranku, aku sudah mulai mengantuk. Tapi mau bagaimana lagi, aku tetap harus membacanya bukan?

            Inilah kisahku tentang membaca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN HASIL PAMERAN

Saat Ini

Lose