Sejak Kapan Aku Menulis??

Mungkin ini tak jauh beda dengan postinganku yang sebelumnya (Sejak Kapan Aku Membaca?). Tapi, tetap saja ada yang beda kan?
            Yang jelas, aku mulai menulis sejak kecil. Tapi waktu yang lebih lengkapnya aku juga tak ingat. Aku diajari menulis oleh guru-guruku saat TK. Oh ya, aku TK 3 tahun, satu tahun di TK Perwanida (dekat dengan rumah) lalu dua tahun di RA AL-MUNAWWARAH. Belajar menulis alfabet dan huruf hijaiyah.
Sebelum menulis, kita harus mempelajari bagaimana cara memegang pensil, tanganku digenggam oleh tangan yang ukurannya lebih besar dengan tanganku saat itu, lalu dipandu untuk menorehkan sesuatu di atas kertas. Sebenarnya aku tak ingat hal itu, hanya saja kira-kira seperti itu, karena mengingat aku melakukan hal itu pada beberapa anak kecil.
Tapi aku ingat, memiliki beberapa buku yang isinya kumpulan titik-titik yang tersusun rapi. Aku harus menarik kuncup pensilku dari titik satu ke titik lainnya, terus begitu. Hingga terlihat jelas, bahwa itu huruf. Tanpa pensilku pun sebenarnya aku sudah menyadarinya bahwa itu huruf.
Aku tak ingat saat kecil apakah aku suka menulis? Tapi, aku memiliki kebiasaan sejak kecil hingga sekarang yaitu menulis segala sesuatu yang ditulis guru di papan. Ya, catatan di buku tulisku cukup lengkap, dan itu sangat berarti untuk kubaca lagi sebagai persiapan ulangan.
Saat kelas 1 SD aku cukup rajin menulis buku harian alias Diary. Ya, berbagai hal yang kutulis di dalamnya, hal-hal konyol yang dialami seorang anak kecil. Saat aku membacanya lagi, hal itu benar-benar memalukan. Beberapa aku hapus atau aku sobek dan kubuang, tapi ada yang masih kusimpan.
Saat aku kelas 3 SD, tepatnya SD AL-MUNAWWARAH, ada lomba di perpusatakaan. Lomba menulis cerita. Saat itu aku sedang suka dengan kisah Nabi Adam karena buku yang dibelikan Umi’(baca di postingan Sejak Kapan Aku Membaca?). Aku menulis kisah Nabi Adam dengan bahasaku sendiri, dengan selembar kertas aku mengumpulkannya dengan memasukkan ke dalam kotak yang sudah disediakan.
Entah kenapa, aku lupa dengan lomba tersebut. Hingga temanku menegurku. “Kamu ikut lomba yang di perpuskan? Kamu gak mau ngambil hadiahnya? Batas  ngambil hadiahnya hari ini!” jelasnya padaku saat dia baru datang dari toilet yang tak jauh dari posisi perpustakaan. Aku keheranan, segera saja aku pergi ke perpus dan melihat kertas yang tertempel di kaca depan perpus. Ada namaku tertera di sana, sebagai juara 3. Sontak saja aku senang dan segera menemui guru yang menjaga perpustakaan.
Aku mendapakat hadiahnya, saat aku membukanya ada sebuah bolpen, sebuah kamus kecil, dan sebuah buku harian(itu di foto, masih ada tapi tak sebagus dulu). Wah! Senangnya. Hingga kini saja, aku tak lupa bagaimana rasa bahagia itu. Tapi, aku masih belum sadar dengan bakat menulisku.

Di sekolah, ada ekstrakurikuler(aku selalu kesulitan mengucapkannya), singkat saja ekskul. Dan saat kelas 5 ada ekskul yang baru dibentuk, yakni menulis. Ya, aku sudah mulai minat menulis dan sedikit berharap menjadi penulis sejak membaca karya Pipiet Senja(baca postingan Sejak Kapan Aku Membaca?). Terlebih lagi sejak aku tahu ada penerbit yang membantu menyalurkan bakat anak dalam bidang menulis, yakni DarMizan.
Aku sudah mulai menulis karya. Ya, sebelumnya pernah seperti menulis puisi atau cerita pengalaman liburan karena tugas Bahasa Indonesia. Tapi kini berdasarkan keinginan hatiku menulis sebuah karya. Aku ingin seperti Pipiet Senja. Di ekskul kami diperintahkan menulis puisi, cerpen dan naskah drama. Guru kami, Ustad Harsono dan Ustadzah Dedeh selalu mengoreksi bahasa yang kurang bagus dan tanda baca yang kurang tepat.
Aku berpikir untuk menulis novel, dan ideku juga cukup matang. Aku menulisnya dari buku tulis kosong yang tebalnya 58 lembar. Aku ingin ikut KKPK, terlebih lagi sejak tahu ada kakak kelasku yang mengirimkan karyanya dan berhasil terbit. Namanya Mbak Ulya, dia jadi salah satu motivasiku. Aku bahkan, meminjam beberapa nama temanku untuk dijadikan tokoh dalam novelku. Tapi harapanku pupus saat kubaca salah satu novel yang ide pemikirannya tak jauh beda denganku. Walau tokoh dan penyajian masalahnya berbeda, tapi inti permasalahannya sama. Padahal aku sudah menulis sepertiga dari keseluruhan.
Aku berhenti menulis sementara waktu. Hingga temanku ada usul untuk membuat kumpulan cerpen bersama. Tentu saja aku setuju. Aku yang pertama menulis cerpenku di buku yang disediakan temanku, judulnya ‘Kerudung Nana’. Sayangnya, rencana kami kandas tengah jalan, hanya 2 cerpen yang ada di buku itu. Teman-temanku yang lain tak pernah sempat menulis cerita mereka karena PR yang menumpuk. Aku berhenti lagi menulis.
Oh ya, sejak dulu sampai sekarang, tulisanku terkenal paling jelek diantara teman-temanku yang perempuan. Tapi aku agak unggul dari beberapa orang dan paling penting dari anak laki-laki tentunya. Kecuali, ada beberapa laki-laki yang tulisannya jauh lebih  bagus dari tulisanku, bahkan tulisannya sangat bagus.
Ternyata aku menemukan teman yang ternyata memiliki banyak kesamaan denganku, namanya Durroh. Sangat banyak hal yang sama diantara kami berdua. Sejak saat itu juga, aku mulai menulis lagi walau hanya sekedar beberapa barisan kata atau bait puisi. Dan dia memiliki bakat yang hebat dalam menulis, menurutku dia adalah rivalku dalam segala hal.
Kami terus bersama-saama, hingga saat ia membuat cerpen yang bagus. Teman-teman lain yang membacanya juga mengakui bakatnya, hal itu membuatku jadi pesimis dengan impianku. Walau demikian, aku masih menulis.
Kelasku mendapat tugas akhir untuk membuat blog. Dari situ aku dan Durroh mengirimkan beberapa karya kami di blog. Kami pergi ke warnet bersama. Hingga kami berpisah di hari kelulusan.
Di SMA ternyata aku memiliki teman yang ternyata juga suka menulis, namanya Nanda. Bahkan, saat pertama kali kami membicarakan tengtang kesukaan kami, sahabatnya Dina mengatakan bahwa karya Nanda diterbitkan. Seketika aku terkagum. Nanda menjelaskan padaku bahwa ia ikut lomba menulis cerpen dan lolos menjadi kontributor. Dia juga menawariku untuk mengikuti lomba-lomba semacam itu dengan informasi lewat facebook ataupun web. Sejak saat itu aku mulai menulis dan karyaku dikirim untuk lomba.
Semangat menulisku bertambah, dan ternyata ada temanku yang lainnya juga suka menulis. Ikut lomba pertama, aku gagal dan Nanda lolos menjadi kontributor. Sedikit kecewa, tapi aku masih semangat untuk menulis. Hingga lomba yang kesekian aku akhirnya lolos menjadi kontributor, dan Dina menjadi juaranya. Aku merasa senang dan sedikit kecewa. Antara kecewa karena karya masih tak sebagus milik Dina dan senang karena untuk pertama kalinya akhirnya karyaku lolos.

Namun aku tetap tak berhenti hingga kini. Alhamdulillah sudah beberapa karyaku yang terbit. Walau masih menjadi kontributor saja dan belum menembus untuk jadi pemenang. Namun aku bersyukur, dan aku tak akan berhenti sampai di sini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN HASIL PAMERAN

Saat Ini

Lose